Sunday, 18 December 2011

Syiah dan Kesesatannya (2)

Syiah dan Kesesatannya (2)

Aqidah Rafidhah berpijak di atas pencacian, pencelaan dan pengkafiran terhadap para sahabat Nabi sallallahu 'alaihi wasallam.

Diungkapkan oleh Al-Kulaini dalam bukunya Furu'ul Kaafi yang diriwayatkan dari Ja'far (yang mereka gelari 'alaihissalam): "Semua sahabat sepeninggal Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam murtad kecuali tiga", kemudian saya bertanya kepadanya: "Siapakah ketiga sahabat ini?" Ia menjawab: "Al-Miqdad bin Aswad, Abu Dzar Al-Gifari dan Salman Al-Farisi."

Setiap tanggal 10 Muharram, mereka membawa anjing yang diberi nama Umar, kemudian mereka beramai-ramai memukulinya dengan tongkat dan melempari batu sampai mati, kemudian mereka mendatangkan kambing betina yang diberi nama Aisyah, kemudian mereka mulai mencabuti bulu-bulunya dan memukulnya dengan sepatu sampai mati.

Sebagaimana juga mereka mengadakan pesta dalam rangka merayakan hari kematian Sayyidina Umar bin Khattab radiallahu anhu, dan memberikan penghargaan kepada pembunuhnya Abu Lu'lu'ah seorang Majusi dengan gelar "Pahlawan Agama."(dari Abbas Al-Qummy dalam Al-Kuna wal Alqaab, hal 2/55) Mudah-mudahan Allah Ta'ala meridhai para sahabat semua dan Ummahatul Mu'minin para istri Rasul.

Lihatlah betapa besar kebencian dan kotornya sekte ini, yang menyimpang dari agama, dan betapa buruk serta kotornya ucapan-ucapan mereka yang dialamatkan kepada manusia-manusia terbaik setelah para Nabi 'alaihimussalam, yang mereka dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya, dan umat telah sepakat akan keadilan dan keutamaannya, serta sejarah dan realita telah mencatat kebaikan-kebaikannya, kepeloporannya, dan jihadnya dalam menegakkan agama Islam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Sisi kesamaan antara Yahudi dan Rafidhah adalah bahwa fitnah yang ada pada Rafidhah itu persis dengan fitnah yang ada pada Yahudi, yaitu kalau orang Yahudi mengatakan yang hanya layak memimpin kekuasaan adalah keluarga Dawud, begitu juga kata Rafidhah tak layak memimpin imamah (kekuasaan) kecuali anak-anak Ali.

Orang Yahudi mengatakan: "Tak ada jihad di jalan Allah sehingga Al-Masih Ad-Dajjal keluar, dan pedang turun di tangan", sementara orang Rafidhah mengatakan: "Tidak ada jihad di jalan Allah sehingga imam Al-Mahdi (imam kedua belas mereka) keluar dan ada yang mengomandokan dari langit".

Orang-orang Yahudi mengakhirkan shalat sampai munculnya bintang-bintang, sebagaimana orang-orang Rafidhah mengakhirkan shalat Maghrib sampai munculnya bintang-bintang sedangkan hadits-hadits Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mengingkari akan hal itu.

"Umatku masih dalam keadaan fitrah, selama tidak mengakhirkan shalat Maghrib sampai munculnya bintang-bintang." (Hadits riwayat Imam Ahmad, hal.4/147, 5/417, 422, Abu Daud dan Ibnu Majah dalam Az-Zawaid dengan sanad hasan.)

Orang-orang Yahudi memutarbalikkkan At-Taurat serta merubahnya, sebagaimana mereka memutarbalikkan Al-Qur'an dan merubahnya. Orang-orang Yahudi tidak berpendapat mengusap (saat wudhu) Al-Khuf (sepatu slop) sebagaimana juga orang-orang Rafidhah. Orang-orang Yahudi membenci malaikat Jibril, mereka mengatakan ia musuh kami dari golongan malaikat sebagaimana Rafidhah dari sekte Al-Gharibiyyah mengatakan Jibril telah berkhianat dikarenakan telah menyampaikan wahyu kepada Muhammad, sebab yang berhak membawa risalah Islam ini adalah Ali bin Abi Thalib, dengan sebab ini mereka mengatakan al-amin (Jibril) telah berkhianat karena memalingkan risalah dari Haidar (Ali bin Abi Thalib).

Rafidhah sama dengan orang-orang Nasrani dalam masalah maskawin, yaitu wanita-wanita Nasrani tidak berhak mendapatkan maskawin karena mereka hanya untuk dipakai bersenang-senang (mut'ah), sebagaimana Rafidhah melakukan nikah mut'ah dan menghalalkannya.

Akan tetapi orang-orang Yahudi dan Nasrani memiliki dua keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang Rafidhah:
  1. Apabila orang-orang Yahudi ditanya tentang siapa sebaik-baik pemeluk agama kalian? Mereka akan menjawab para sahabat Nabi Musa 'alaihissalam.
  2. Apabila orang-orang Nasrani ditanya siapa sebaik-baik pemeluk agama kalian? Mereka akan menjawab para sahabat setia Nabi Isa 'alaihissalam.
Tetapi jika orang Rafidhah ditanya tentang siapa yang paling buruk dari pemeluk agama kalian, mereka menjawab para sahabat Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam.

Orang-orang Rafidhah juga mengaku bahwa para imam mereka ma'sum (terjaga dari kesalahan dan dosa) serta mereka mengetahui ilmu ghaib.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Rafidhah menyangka bahwasanya urusan agama diserahkan kepada para pendeta, halal adalah yang menurut mereka halal dan haram adalah yang menurut mereka haram dan konsep keagamaan adalah yang mereka syariatkan.

Belum puas dengan itu semua mereka juga membuat bid'ah yang sangat besar yaitu aqidah raj'ah (kembali hidup setelah mati sebelum kiamat).

Al-Mufid dalam Awailul Maqalath berkata, "Syiah Imamiyyah sepakat keharusan hidupnya kembali (raj'ah) sejumlah orang yang sudah mati." Kemudian aqidah raj'ah ini mengalami perkembangan yang sangat cepat sehingga mereka mengatakan bahwa semua orang Syi'ah bersama para imamnya, musuh-musuhnya dan para pemimpinnya akan dihidupkan kembali.

Aqidah yang khurafat ini jelas membuka tabir kedengkian yang amat dalam pada jiwa orang-orang Syi'ah, yang memunculkan seperti ungkapan-ungkapan kosong di atas. Aqidah ini dijadikan sebagai sarana yang dipergunakan oleh Saha'iyah untuk mengingkari hari kiamat.

No comments:

Post a Comment