Sunday, 18 December 2011

Syiah dan Kesesatannya (bag.1)

Syiah dan Kesesatannya (bag.1)

Rafidhah lahir kepermukaan ketika seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba' hadir dengan mengaku sebagai seorang muslim, mencintai Ahlul Bait (Keluarga Nabi), berlebih-lebihan di dalam menyanjung Ali bin Abi Thalib r.a., dan mendakwahkan adanya wasiat baginya tentang kekhalifahannya, yang pada akhirnya ia mengangkatnya sampai ke tingkat ketuhanan. Kemudian ideologi seperti inilah yang akhirnya diakui oleh buku-buku Syi'ah itu sendiri.

Al-Qummi pengarang buku Al-Maqalaat wal firaq mengaku dan menetapkan akan adanya Abdullah bin Saba' ini, dan menganggapnya orang yang pertama kali menobatkan keimaman (kepemimpinan) Ali bin Abi Thalib r.a. serta munculnya kembali (sebelum kiamat) di samping ia juga termasuk orang yang pertama mencela Abu Bakar, Umar, Utsman dan para sahabat yang lainnya.

Penamaan Syi'ah dengan Rafidhah dinyatakan sendiri oleh pembesar mereka yang bernama Al-Majlisi dalam bukunya Al-Bihar, ia menyebutkan empat hadits dari hadits mereka sendiri.

Mereka diberi nama Rafidhah dikarenakan mereka mendatangi Zaid bin Ali bin Al-Husain seraya berkata, "Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar, dengan demikian kami akan bergabung bersamamu", kemudian Zaid menjawab, "Mereka berdua adalah sahabat kakek saya, saya tak akan bisa berlepas diri dari mereka, bahkan akan selalu bergabung dengannya, dan setia kepadanya", kemudian mereka berkatak, "Kalau demikian kami menolakmu", dengan demikian mereka diberi nama "Rafidhah" artinya golongan penolak. Adapun orang-orang yang berbaiat dan setuju dengan Zaid diberi nama "Zaidiyyah".

Dalam suatu pendapat dikatakan mereka diberi nama Rafidhah dikarenakan penolakannya akan keimaman Abu Bakar dan Umar. Dalam pendapat yang lain, diberi nama Rafidhah dikarenakan penolakannya terhadap Agama.

Al-Baghdadi berkata: "Rafidhah setelah masa Ali bin Abi Thalib r.a. terbagi menjadi empat golongan, Zaidiyyah, Imamiyyah, Kisaniyyah dan Ghulaati", dengan satu catatan bahwa Zaidiyyah tidak termasuk golongan Rafidhah, melainkan Al-Gharudiyyah bagian atau sempalan dari Zaidiyyah yang masuk ke dalam Rafidhah.

Salah satu aqidah nyelenneh dari Rafidhah adalah Bada'. Bada' artinya tampak, yang sebelumnya masih tersembunyi atau berarti pula munculnya pendapat baru. Bada' dengan kedua arti di atas berkait erat dengan didahuluinya ketidaktahuan, dan munculnya pengetahuan baru, kedua sifat tersebut mustahil bagi Allah Ta'ala, akan tetapi Rafidhah menisbatkan sifat bada' ini kepada Allah Ta'ala.

Abu Abdillah berkata dalam Kitaabit Tauhid, "Seorang belum dianggap beribadah kepada Allah sedikitpun, sehingga ia mengakui adanya sifat bada' pada Allah."
Maha Tinggi Allah Ta'ala setinggi-tingginya dari tuduhan seperti ini.

Tokoh-tokoh Rafidhah senantiasa berpijak pada konsep meniadakan sifat-sifat Allah yg terkandung di dalam Al-Quran dan Hadits. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam Minhajus Sunnah bahwa Hisham bin Al-Hakam, Hisham bin Salim Al-Juwailiqi, Yunus bin Abdurrahman Al-Qummy, dan Abu Ja'far Al-Ahwal adalah para tokoh Syi'ah Itsna 'Asyariyyah yang pada akhirnya menjadi sekte Jahmiyyah yang meniadakan sifat bagi Allah Ta'ala.

Ibnu Babawaih telah meriwayatkan dalam kitab At-Tauhid Ibnu Babawaih lebih dari 70 riwayat yang menyatakan bahwa "Allah Ta'ala tidak disifati dengan waktu, tempat, tingkah, gerak, pindah, tidak tersifati dengan sifat-sifat yang ada pada jisim(fisik makhluk), tidakd berupa materi, jisim dan bentuk"

Sebagaimana juga mereka mengingkari turunnya Allah Ta'ala ke langit bumi, ditambah lagi perkataan mereka tentang Al-Qur'an bahwa ia adalah makhluk, di samping itu mereka juga mengingkari akan melihat Alah Ta'ala di akhirat nanti. Disebutkan dalam buku Biharul Anwar bahwasanya Abu Abdillah Ja'far Ash-Shadiq pernah ditanya, apakah Allah Ta'ala bisa dilihat pada hari kiamat? Ia menjawab:"Mahasuci Allah, dan Mahatinggi setinggi-tingginya, sesungguhnya mata tidak bisa melihat kecuali kepada benda yang memiliki warna dan berkondisi tertentu, sedangkan Allah Ta'ala Dzat yang menciptakan warna dan yang menentukan kondisi.

Bahkan orang-orang Syi'ah mengatakan: "Jika ada seseorang menisbatkan kepada Allah sebagian sifat, seperti sifat Allah dapat dilihat, maka seorang tadi dihukumi murtad(keluar dari Islam), sebagaimana yang disinyalir oleh tokoh mereka Ja'far An-Najfi dalam buku Kasyful Githa halaman 417.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya melihat Allah Ta'ala hak, benar adanya, ditetapkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah yaitu melihat Allah tak bisa dibayangkan dengan detail dan tak bisa diperagakan, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam surah Al-Qiyamah ayat 22-23. Dalil As-Sunnah bahwa Allah Ta'ala dapat dilihat di hari kiamat, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, beliau berkata: "Kami pernah duduk bersama Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam kemudian beliau melihat bulan purnama pada malam 14, maka beliau bersabda: "Kalian akan melihat Rob kalian dengan mata kepala, sebagaimana kalian melihat bulan ini dan tidak bersusah-susah dalam melihat-Nya.". Dan banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits yang membicarakan tentang hal ini yang tidak mungkin kita ungkap di sini.

Rafidhah yang dikenal dewasa ini dengan Syi'ah, mengatakan bahwa: "Al-Qur'anul Karim yang ada pada kita sekarang ini bukan Al-Qur'an yang diturunkan Allah Ta'ala kepada Rasulullah S.A.W, ia telah mengalami perubahan, penggantian, penambahan dan pengurangan."

Mayoritas ahli hadits Syi'ah berkeyakinan adanya perubahan dalam Al-Qur'an, sebagaimana yang dikatakan oleh Annury Ath-Thibrisi dalam bukunya Fashlul Khitab fii Tahrifi Kitab Rabbil Arbab (Kata Pemutus dalam Perubahan Kitab Yang Maha Memiliki).

Muhammad bin Ya'kub Al-Kulaini berkata dalam bukunya Ushulul Kaafi  pada bab "Yang Mengumpulkan dan Membukukan Al-Qur'an Hanyalah Para Imam" diriwayatkan dari Jabir, ia(Jabir) berkata saya mendengar Abu Ja'far berkata, "Siapa yang mengaku telah mengumpulkan Al-Qur'an dan membukukan seluruh isinya sebagaimana yang diturunkan Allah Ta'ala, maka sesungguhnya ia seorang pendusta, tidak ada yang mengumpulkan dan yang menghapalkannya, sebagaimana yang diturunkan oleh Allah Ta'ala, melainkan Ali bin Abi Thalib, dan para imam sesudahnya."

Setelah jelas aqidah mereka tentang Al-Qur'an, maka tampak bahwa di sana ada dua Al-Qur'an, yang pertama Al-Qur'an yang ma'lum (jelas) didketahui khalayak ramai, yang kedua khusus (yang dirahasiakan) yang di antaranya isinya ada surat Al-Wilayah.

Dan di antara anggapan orang-orang Syi'ah bahwa di sana ada dua ayat yang hilang dari surat An-Nashr, ayat itu berbunyi: "Dan kami jadikan Ali menantumu."

Sungguh mereka tak merasa malu dengan anggapan seperti ini, meskipun mereka mengetahui bahwa surat ini termasuk surat Makkiyyah, yang mana Ali bin Abi Thalib belum menjadi menantu Rasulullah pada saat itu di Makkah.

No comments:

Post a Comment